Sunday, August 29, 2010

Saturday, August 21, 2010

Tuesday, August 17, 2010

Salah siapakah??

Perbualan pertama
mr A: yer knape mr X?
mr X: saya ni asal petang je mesti pahala makin kurang punye..
mr A: nape yer?
mr X: Mana xnya...hmm..Tolongla buat kaum hawa, kalau pergi ke bazar ramadhan tu pakaila yang sopan-sopan sikit. saya ni bukannya kuat iman sangat tapi jagalah diri elok-elok. Sekurang hormatilah orang yang berpuasa.

Perbualan kedua
mr A: Ya mr K... ada apa-apa komen?
mr K: Pasal kaum Hawa tu memang kita xboleh tegur.. lain kali janganla tengok. Itukan hak masing2. Kita xboleh tegur diorang suka-suka hati.. Kubur lain-lain. Ape nak kisah..

Perbualan ketiga
mr A: Ada apa-apa yang mahu dibicarakan?
miss Z: Suka ati kitorangla nak pakai pe pun... Lagipun tu kan hak masing-masing. xsalah kan?

**perbualan di atas adalah salah 1 daripada perbualan di salah sebuah stesen radio
negara kita yang diri ini terdengar

----> Astaghfirullah al-Azim... sedih bila mendengarkan hal yang sebegini.. siapakah yang patut disalahkan??ibubapa?masyarakat?ataupun diri sendiri? fikir2kanlah... jangan fikir je tanpa 'hijrah'.. amar ma;ruf nahi mungkar^^,


Ustaz Shahrir Long - Haram tetap Haram!!!

Tuesday, August 10, 2010

ahlan wasahlan ya Ramadhan^^,


Narrated Abu Huraira: Allah’s Apostle said, “When the month of Ramadan starts, the gates of the heaven are opened and the gates of Hell are closed and the devils are chained.”
~Sahih Bukhari~


Selamat menjalani ibadah puasa^^,

Abu Huraira related that the Prophet (peace and blessings be upon him) said: Whoever fasts during Ramadan with faith and seeking his reward from Allah will have his past sins forgiven. Whoever prays during the nights in Ramadan with faith and seeking his reward from Allah will have his past sins forgiven. And he who passes Lailat al-Qadr in prayer with faith and seeking his reward from Allah will have his past sins forgiven (Bukhari, Muslim).

Anas related that Rasulullah said: Take the Suhoor meal, for there is blessing in it (Bukhari, Muslim).

Friday, July 23, 2010

ibu saya seorang pembohong

Ibuku Seorang Pembohong?
buat renungan bersama

Ibuku Seorang Pembohong ?

Sukar untuk orang lain percaya,tapi itulah yang terjadi, ibu saya memang seorang pembohong!! Sepanjang ingatan saya sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi saya. Saya perlu catatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian. Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan.

PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA.
Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : ""Makanlah nak ibu tak lapar."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA.
Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi.

Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : "Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan."

PEMBOHONGAN IBU YANG KETIGA.
Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat, pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : "Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula." Ibu tersenyum dan berkata : "Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.
Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibu terus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Illahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat menolaknya dan berkata : "Minumlah nak, ibu tak haus!!"

PEMBOHONGAN IBU YANG KELIMA.
Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu... Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga.. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : "Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEENAM.
Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : "Jangan susah-susah, ibu ada uang."

PEMBOHONGAN IBU YANG KETUJUH.
Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar Negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya di luar negara. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; "Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima berita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetap tersenyum dan berkata : "Jangan menangis nak, ibu tak sakit."

Setelah mengucapkan pembohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali. Dibalik kebohongannya, tersimpan cintanya yang begitu besar bagi anak2nya.

Anda beruntung karena masih mempunyai orangtua... Anda boleh memeluk dan menciumnya. Kalau orangtua anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata, 'Ibu/Ayah, saya sayang ibu/ayah.' Tapi tidak saya lakukan, hingga kini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun saya mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Ibu, maafkan saya. Saya sayang ibu.......
Tulisan ini kiriman seseorang, sangat menyentuh... terima kasih


~ku terima kiriman ini daripada seorang temanku melalui fb~
p/s: sekadar berkongsi cerita

Wednesday, June 9, 2010

Ummati... ummati.. ummati..

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam, "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam." kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?".

"Tak tahulah ayahku, baru sekali ini aku melihatnya." tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah manatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian ingin dikenang.

"Ketahuilah, dia yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut." kata Rasulullah S.A.w. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan mengapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu di dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu- pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu." kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" tanya Jibril lagi.

" Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul! Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: "Kuharamkan syurga bagi sesiapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya." kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat. Saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh baginda bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. " Jibril, betapa sakitnya sakaratul naut ini." perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

" Jijikkah kau melihatku hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" tanya Rasulullah kepada malaikat penghantar wahyu itu.
" Siapakah yang sanggup melihatkekasih Allahdirenggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.

"Ya Allah, dahsyat nian maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya, " Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku (peliharalah solat dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu)."

Di luar pintu, tangis mulai dengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummati... ummati... ummati.." - " Umatku... umatku... umatku..."
Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya??
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita... (^^,)

*****************************************

(Arab)

C/O
Sungguh mulianya pekertimu
Sinar bercahaya di wajahmu
Kaulah Nabi kekasih Allah
Kau jadi insan pilihan

Demi umat rela berkorban
Jiwa dan raga kau taruhkan
Demi Tuhan kau tempuhi
Dugaan dan cabaran

Ya Rasulullah?

Tika mula kau menerima wahyu
Hatimu resah tiada menentu
Khadijah mengukir kata-kata
Bahwa kau Rasul buat seluruh umat
(Bahwa kau Nabi buat seluruh umat)

Bila kau hampir memejamkan mata
Lidahmu basah menyebut ummati
Kasih sayangmu tak bisa digambar
Hanya selawat pengikat kasih
mestica_siratunnabi

Tuesday, June 8, 2010

istimewanya mereka...

11th May 2010
Today we were going to the Sekolah Pendidikan Khas Setapak from UiTM Shah Alam at 11o’clock. We go there because to do a screening test for the blindness students there. There are only 100 respondents in our test. They are classified into two classes; 1) B1, and 2) B2 which is the B1 is totally blind while the B2 is partially blind (blur visual). The test that we were doing for them including body mass index (BMI), basketball throw (chest and overhead pass), star jump, run (20m, 40m, and 80m), and other few tests that I forgotten. All about the test for me is important but there is something more important when being there…

Perbualan pertama:

A:“ jap gi ko nak buat pe?”
B: “ Jom baca buku..”
A: “Tak mau..”
B: “Jom tengok wayang?”
A: “Hahaha…”
**A: Blindness student, B: not blindness student


Perbualan kedua:

A: “Jap gi ko jadi imam eh?”
B: “Ok2... boleh..”
**A and B: Blindness students

Itulah antara perbualan anak-anak yang belajar di sekolah itu yang sempat diri ini “catch”=) Tersenyum sendiri mendengar perbualan dan melihat telatah mereka=)

Kagum diri ini pabila melihat segala pengurusan diri mereka lakukan sendiri. Tinggal di asrama bersama teman-teman seperjuangan yang senasib. Kagum!!=) Apabila tiba waktu solat Zohor masing-masing tergesa-gesa untuk mengambil wudhuk dan terus menuju ke surau. Solat berjemaah! Buat pertama kali berjemaah bersama anak-anak seperti itu=) Rasa ketenangan hadir di situ… Terasa panas kelopak mataku. Namun, ku tahan supaya empangan itu tidak pecah. Kemudian ku hulur tangan untuk bersalaman namun salam ku tidak bersambut.. Diri ini terlupa kekurangan mereka di dunia yang hakiki ini… namun ku dekati seorang lagi pelajar di situ, bersalam dan berpelukan. Terasa seperti dirinya tidak mahu melepaskan diri ini. Barangkali rindukan keluarga nun jauh di Kelantan.


salah sorang dari peserta

Surah Yassin dalam tulisan brail

"basketbal throwing"

adik-adik mendengar taklimat

sesi taklimat

team penganjur SR223


P/s: Biarlah kekurangan di sini menjadi saham di sana nanti… Di dunia inilah kita bercucuk tanam semoga mendapat hasil tuaian yang baik dan hebat di akhirat kelak.. Ameen... (^^,)